Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2011

Program Anti “Virus”


Masalah virus adalah masalah yang cukup serius, dan tentu sudah tidak asing lagi bagi para pemilik komputer. Apatah lagi jika telah tersambung dengan jaringan internet. Ada ribuan virus—bahkan lebih dari itu—siap menyerang, sehingga menyebabkan pemilik komputer mengurut dada. Bahkan terkadang sampai mengucurkan air mata jika serangan virus menyebabkan kerusakan yang cukup fatal.

Mulailah para pemilik komputer berburu anti virus yang paling ampuh. Namun seiring dengan perjalanan waktu, ternyata ada di antara virus yang sampai memakan anti virus, sehingga para pemilik komputer terkadang menghabiskan waktunya hanya untuk mencari anti virus baru, atau gonta-ganti anti virus, atau sekadar up-date anti virus. Yah, itulah resiko memiliki komputer. Entah kapan masalah virus ini akan hilang dari dunia perkomputeran. Wallahu A’lam.

Namun sebenarnya, ada jenis virus yang lebih membahayakan dari ribuan jenis virus yang menyerang komputer. Virus yang penulis maksudkan adalah virus situs-situs porno. Dampaknya bukan cuma menyerang komputer secara khusus, namun juga pemilik komputer. Bahkan akibatnya lebih dahsyat, bisa “mematikan” sang pemilik komputer.

Mematikan yang penulis maksud bukanlah kematian dalam artian berpisahnya ruh dari jasad, namun lebih dari itu. Virus ini langsung menyerang pusat kehidupan seseorang yaitu “hati”, sedahsyat apa pun virus yang menyerang tubuh atau jasad seseorang, ujungnya adalah kematian. Jika ia adalah orang yang shaleh, maka ia akan beristirahat dari kehidupan dunia yang penuh dengan keletihan dan kemaksiatan. Dan insya Allah akan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah berupa kenikmatan yang tiada henti. Namun jika yang mati adalah hati, maka hal itu adalah alamat kesengsaraan abadi di dunia dan di akhirat.

Namun sangat disayangkan, sebagian manusia jika mulai terjangkit sebuah penyakit yang sifatnya lahiriah, ia bergegas melakukan terapi. Meski menghabiskan banyak dana. Bahkan terkadang ada yang melakukan safar ke beberapa negara dengan tujuan berobat karena sangat takut dengan penyakit yang menimpanya tersebut. Adapun kalau ia tertimpa penyakit hati yang sifatnya maknawi seperti kesyirikan, kebid’ahan, iri, dengki, hasad dan sebagainya (syubhat & syahwat) maka ia tenang-tenang saja dan tidak merasa perlu mencari obatnya, padahal jenis penyakit inilah yang lebih berbahaya.

Situs-situs porno yang semakin merebak dan subur ibarat jamur di musim hujan tentu sangatlah meresahkan kita semua. Jika ada seorang muslim yang tidak resah dengan realita yang memilukan ini, hendaklah ia mengintrospeksi keimanannya, karena ulama kita mengatakan bahwa jika Anda hendak mengetahui derajat dan kedudukan Anda di sisi Allah, maka lihatlah sejauh mana kecemburuan Anda terhadap agama ini, apakah hati Anda masih ada rasa berontak jika melihat sebuah kemungkaran atau tidak.

Berikut ini beberapa terapi atau tips untuk melindungi diri dari virus situs porno, semoga bermanfaat:

1. Jangan membuka surat atau tulisan yang tidak jelas asalnya karena kebanyakannya berisi muatan pornografi atau kiriman virus yang bisa mengancam komputer Anda, atau minimal hanya menghabiskan waktu dan harta.

2. Jauhilah semampu Anda untuk menggunakan fasilitas internet dalam keadaan bersendirian, karena dalam keadaan seperti itu, setan akan mendapatkan peluang emas dengan bisikan dan tipu dayanya yang menggiurkan atau membangkitkan gairah membuka situs-situs porno, atau dengan kata lain jika memang kita terpaksa untuk membuka internet maka usahakan dengan menghadirkan orang lain di sekitar kita. Namun sayangnya, kebanyakan warnet memang dimodifikasi dan dikondisikan untuk para pemakai bersendirian dalam menggunakannya. Alasannya, agar tidak saling mengganggu antara pemakai yang satu dengan yang lainnya. Kalau niat pengelola internet seperti ini, mungkin masih bisa ditolelir. Namun kenyataannya, hal ini memberi peluang yang sangat besar bagi para pemakai untuk bebas membuka situs yang dikehendakinya, sehingga dikuatirkan mereka terjatuh dalam “tolong-menolong dalam kebathilan”. Wallahul Musta’an.

Jauhilah membuka internet dalam kondisi gairah syahwat Anda kuat.

4. Jangan menggunakan fasilitas pencari data seperti “Google” atau “Yahoo” atau selainnya untuk mencari data yang ada kaitannya dengan hubungan antara lawan jenis, walaupun dengan niat untuk mengambil manfaat, yang bisa menyebabkan seseorang menertawakan dirinya sendiri karena tertipu oleh kamuflase jiwa yang kelihatannya mengajak pada kebaikan namun ia terjatuh pada lembah kenistaan.

5. Jauhilah teman yang jelek karena terkadang merekalah yang menjadi sebab seseorang mendapatkan informasi seputar dunia internet atau memberi data situs-situs porno yang ada pada internet.

6. Letakkanlah komputer Anda di rumah pada tempat yang mudah dilihat semua orang, seperti di ruang kumpul keluarga atau di ruang makan. Jangan menutup pintu. Jadikanlah monitor komputer Anda berhadapan dengan pintu, atau dengan kata lain posisi Anda membelakangi pintu. Insya Allah hal itu akan menjauhkan pikiran Anda untuk membuka situs-situs porno karena rasa malu dari orang yang bisa saja masuk secara tiba-tiba.

7. Menghadirkan rasa takut dan merasa diawasi oleh Allah dan keyakinan akan pandangan Allah Yang Mahamengetahui segala sesuatu baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

8. Jadikanlah tulisan pembuka pada saat Anda membuka komputer berupa ayat-ayat al Qur’an atau hadits-hadits yang mengandung peringatan dan ancaman, tulislah dengan tulisan yang besar yang memenuhi layar komputer Anda, atau dengan kata-kata hikmah atau gambar sebuah kuburan dan sebagainya, gantilah pada setiap pekan atau tiap sepuluh hari.

9. Ketika gairah syahwat Anda meninggi segeralah berziarah ke kuburan dan jangan berziarah ke warnet karena hal itu akan mengingatkan Anda kepada hari akhirat, pemutus segala angan-angan dan cita-cita.

10. Jauhilah tempat-tempat yang bisa membangkitkan syahwat seperti pasar-pasar, mall-mall, tempat-tempat rekreasi umum dan yang sejenisnya. Boikotlah semua stasiun-stasiun televisi atau majalah dan surat-surat kabar yang berbau pornografi, karena secara umum hal-hal inilah yang bisa membangkitkan syahwat seseorang.

11. Segeralah menikah untuk menyelamatkan diri dan agama Anda, dan berusahalah untuk mengatasi segala rintangan yang menghalangi Anda untuk menuju gerbang pernikahan, karena sesungguhnya pernikahan itu indah.

12. Coba tanya diri Anda; apa untungnya Anda membuka situs-situs porno? Hanya akan membangkitkan dan mengobarkan api syahwat, setelah itu apa? Entah Anda bersabar dengan dorongan syahwat tersebut (yang justru bisa membuat Anda tersiksa dan stres), atau Anda akan melampiaskannya pada apa yang diharamkan Allah? Na’udzubillah! Inikah jalan orang-orang yang berakal?

13. Jika keinginan untuk membuka situs porno semakin menguat maka segeralah tutup komputer Anda.

14. Bayangkan, seandainya sebelum Anda menutup situs porno yang telah Anda buka, tiba-tiba kematian menjemput Anda, apakah Anda tidak merasa malu setelah orang-orang mengetahuinya? Dan sungguh banyak orang yang mati dalam keadaan seperti ini—atau yang sejenisnya, ada yang mati ketika berada di atas tubuh seorang pelacur. Wal’iyadzu billah.

15. Jika memang Anda sulit untuk mengendalikan diri jika telah membuka internet maka cobalah Anda untuk tidak menggunakan fasilitas internet beberapa hari untuk mengobati dan menguatkan keimanan Anda dalam hati dan sibukkanlah diri Anda dengan membaca, mendengar dan menghadiri majelis-majelis ilmu, karena tidaklah seseorang berani membuka situs-situs haram tersebut melainkan karena kadar keimanan yang melemah.

16. Camkan! Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba melainkan istiqamah dan teguh di atas jalan agama Allah, perbanyaklah istighfar dan doa kepada-Nya, ketuklah pintu-Nya, karena sesungguhnya doa merupakan senjata utama seorang mukmin yang memberi pengaruh yang sangat kuat, dan ingatlah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau didatangi seorang pemuda seraya berkata,

“Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bersabda, “Apakah engkau ridha jika seseorang berzina dengan ibumu?” Selanjutnya beliau meletakkan tangannya di dada lelaki tersebut seraya berdoa, “Ya Allah, bersihkanlah hatinya, jagalah kehormatannya.” Abu Umamah t berkata, “Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan pemuda itu maka sama sekali ia tidak pernah lagi untuk berpaling pada keinginannya tersebut.”

17. Ketahuilah, barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Semoga Allah Subhana wa Ta’ala senantiasa memberikan rasa takut pada kita semua yang dengannya dapat menghalangi kita dari segala bentuk kemaksiatan, dan membersihkan hati-hati kita. Amin. Wallahu A’lam bis-Showab.

/ Sumber : Tabloid Al Istiqomah, Jam’iyah al Kitab wa as-Sunnah Khartoum-Sudan dengan beberapa perubahan dari penerjemah dan redaksi.

? Diterjemahkan oleh Ust. Harman Tajang, Lc.
Selengkapnya...

Selasa, 12 Juli 2011

AHLAN RAMADHAN


“Ya Allah sesungguhnya Engkau telah menaungi kami dengan bulan ramadhan, ramadhan akan tiba maka hantarkanlah ia kepada kami dan sampaikanlah kami kepadanya, berikakanlah rezeki kepada kami dengan berpuasa dan shalat, anugerahkanlah kepada kami kekuatan dan kesungguhan serta kesiapan, lindungilah kami dari fitnah.”

Pada saat kita melihat bagaimana salafusshalih menghidupkan bulan ramadhan dengan beribadah kepadaNya, maka kita akan mendapati hampir seluruh waktu yang ada hampir tak mereka lepaskan begitu saja, tetapi mereka berpacu dengan waktu tersebut seakan-akan mereka tidak pernah beristirahat, Imam Syafi’i terbiasa menghatamkan Al Qur’an 60 kali pada bulan ramadhan, Imam Ahmad menhatamkannya setiap pekan, Yahya bin Ma’in menghatamkannya setiap malam tanpa mengabaikan ibadah-ibadah yang lain, kesungguhan ini tentu bukan kesungguhan yang biasa. Biar kita tidak hanya terkesima dengan ibaadah mereka, mari kita coba awali dengan melihat sebab-sebab yang menjadikan mereka bisa mewujudkan hal tersebut, diantaranya:
1. Mereka senantiasa membangkitkan kerinduannya kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Hal ini sebagaimana doa Rasulullah dalam shalat-shalatnya. Kerinduan akan perjumpaan dengan Rabbnya senantiasa mereka panjatkan dalam do’a-do’a mereka.

أَسْأَلُكَ الرِّضاَ باِلْقَضَاءِ وَبَرْدَ اْلعَيْشِ بَعْدَ اْلمَوْتِ وَلَذَةَ النَّظَرِ إِلىَ وَجْهِكَ وَالشَّوْقِ إِلىَ لِقاَئِكَ

“Aku memohon kepadaMu ridha atas ketetapanMu, kehidupan yang damai setelah kematian, kelezatan memendang wajahMu dan rindu akan perjumpaan denganMu.” [ HR Nasai dishhihkan oleh al Bani dalam Shahih al Jami’ no: 1301]

Untuk menumbuhkan kerinduan itu mereka mengawalinya dengan:

Menelaah lagi Asma wa sifat Allah.
Memperhatikan kenikmatan yang telah Allah anugerahkan.
Merasa rugi atas waktu-waktu yang telah berlalu karena malalaikan ibadah tidak seperti dibulan ramadhan.
Melihat kepada orang-orang shalih yang telah jauh meninggalkan mereka dengan amal ibadahnya.

2. Mereka sangat memahami keutamaan bulan ramadhan sebagai nikmat Allah kepada mereka.
Ibnu Mas’ud pernah mendengar Rasulullah bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ اْلعِباَدُ ماَ فِيْ رَمَضاَنَ ، لَتَمَنَتْ أُمَّتِيْ أَنْ تَكُوْنَ السَّنَةَ كُلُّهاَ

“Seandainya hamba-hamba (Allah) mengetahui apa yang ada pada bulan ramadhan, sungguh umatku menginginkan agar satu tahun dijadikan ramadhan semuanya.” [ ‘Umdatul Qari’ Syarah shahih Al Bukhari].

3. Melatih diri dengan persiapan, tekad yang kuat dan obsesi yang tinggi.

وَلَوْ أَرَادُواْ الْخُرُوجَ لأَعَدُّواْ لَهُ عُدَّةً

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu” (QS. At Taubah [9]: 46)

قاَلَ وَهِيْب بْنُ اْلوَرَدِ: إِنْ اسْتَطَعْتَ أَلاَ يَسْبِقَكَ إِلىَ اللهِ أَحَدٌ فاَفْعَلْ.

Wahib bin Al Ward berkata: “ Jika anda mampu agar tidak seorangpun mendahuluimu kepada Allah (dalam beribadah) maka lakukanlah.

قاَلَ الشَّيْخُ شَمْسُ الدِّيْنِ مُحَمَدٌ التُّرْكِسْتاَنِيْ: ماَ بَلَغَنِيْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ أَنَّهُ تَعْبُدُ عِباَدَةً إِلاَّ تَعَبَدتُ نَظِيْرَهاَ وَزِدتُ عَلَيْهِ.

Syaikh Syamsuddin bin Muhammad At Turkistani berkata:” Tidaklah apa yang sampai kepadaku kabar tentang seseorang yang beribadah suatu ibadah kecuali saya melakukan ibadah itu yang sama dan menambahnya.”

قاَلَ اْلجُنَيْدُ: سِيْروُا مَعَ اْلهِمَمِ اْلعاَلِيَّةِ.

Al Junaid berkata: “Berjalanlah engkau bersama orang-orang yang berhimmah ‘aliyah.”

4. Menjauhkan kemalasan dan bergaul dengan orang-orang yang rajin beramal shalih.
قاَلَ شُعْبَةَ بْنُ اْلحِجاَجِ اْلبَصَرِيْ: لاَ تَقْعُدُوا فُراغًا فَإِنَّ اْلمَوْتَ يَطْلُبُكُمْ.

Syu’bah bin Al Hijaaj Al Bishri berkata: “ Janganlah kalian duduk untuk bersantai-santai karena kematian sedang mencarimu.

قِيْلَ لِلإمَام أَحْمَدَ: مَتىَ يَجِدُ اْلعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ ؟ فَقَالَ: عِنْدَ أّوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهاَ فِيْ اْلجَنَّةِ.

Dikatakan kepada Imam Ahmad: “ Kapan seseorang itu beristirahat ? Maka dijawab: Ketika pertama kali telapak kakinya diletakan disurga.”

5. Senantiasa muhasabah atas segala kekurangan dalam beribadah.
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwasanya Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ : بِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan dia duduk dikaki gunung ketakutan jika gunung itu meruntuhinya, adapun orang fajir melihat dosa-dosanya bagaikan dia melihat lalat yang melintas didepan hidungnya sambil berkata: Hi !!.” [ HR. Muslim no 2744]

6. Membekali dengan ilmu seputar hukum-hukum ibadah ramadahan.
Pengetahuan yang benar tentang hukum-hukum seputar ramadhan merupakan modal utama didalam menjalankan ibadah ramadhan, sehingga pelaksanaan itu akan dijalani dengan kemantapan dan keyakinan serta mendapatkan pahala yang benar-benar memberikan manfaat diakhirat, tidak seperti orang-orang yang hanya bermodal semangat tanpa ilmu sehingga amalnya itu bak debu yang tidak berguna.

وقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”(QS. Al Furqan [25]: (53)

7. Mempersiapkan diri dengan kesabaran agar bisa menikmati ibadah pada bulan ramadhan.
Dibulan yang penuh barakah inilah seorang muslim diuji kesabarannya dalam berbagai hal, sebagaimana Allah berfirman dalam hadist Qudsi:

يَذَرُ شَهَوَتِهِ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ لأَجْلِي فَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Mereka meninggalkan syahwatnya dan makannya serta minumnya hanya untukKu, maka puasa itu untukKu dan Akulah yang akan membalasnya.” [HR. Muslim no 1151]

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” (QS. Fushilat [41]:35).
8. Menghidupkan segala ibadah-ibadah yang ada dan mampu dikerjakan tanpa meremehkan ibadah yang terlihat kecil.
Abu Dzar berkata bahwasanya Rasulullah bersabda:

قاَلَ رَسُوْلُ اللّه: “لاَ تـَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً

“Janganlah kamu memandang rendah sedikitpun suatu kebajikan” [ HR. Muslim no 2626].

Ibnu ‘Abbas berkata:

كاَنَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكاَنَ أَجْوَدُ ماَ يَكُوْنُ فِيْ رَمَضاَنَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ القُرآنَ.

“Adalah Rasulullah orang yang paling dermawan terlebih lagi pada bulan ramadhan ketika Jibril mendatanginya untuk mengajarkan Al Qur’an.” [ HR. Al Bukhari no 1902]

قاَلَ الشَّافِعِيُ رَحِمَهُ اللهُ: أُحَبُّ لِلرَّجُلِ الزِّياَدَةَ بِالْجُوْدِ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ اِقْتَداءً بِرَسُوْلِ الله وَلْحاَجَةَ النَّاسِ فِيْهِ إِلىَ مَصاَلِحِهِمْ وَتَشاَغِلُ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ بِالصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ عَنْ مَكاَسِبِهِمْ.

Imam Syafi’i berkata: “Yang terbaik bagi seseorang pada bulan ramadhan adalah semakin dermawan sebagai bentuk meneladani Rasulullah dan karena pada bulan ramadhan manusia lebih membutuhkan untuk kemaslahatan mereka serta kesibukan mereka pada puasa dan shalat daripada bekerja. Memperbanyak dzikir kepada Allah. Imam Ahmad berkata:

خَيْرُ العَمَلِ أنْ تُفاَرِقَ الدُّنْياَ وَلِساَنُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“Sebaik-baik amal adalah engkau berpisah dari dunia dan lisanmu basah dari dzikir kepada Allah Subhanahuwata’ala.” [ HR Ahmad dihasankan oleh Al Bani dishahih Al Jami’ no 165]

9. Memahami hal-hal yang bisa melemahkan ibadah, sehingga tidak larut dalam futur.
قَالَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَابِ: إِنَّ لِهَذِهِ اْلقُلُوْبِ إِقْباَلاً وَإِدْباَرًا فَإِذاَ أَقْبََلَتْ فَخُذُوْهاَ بِالنَّواَفِلِ وَإِنْ أَدْبَرَتْ فَأَلِزمُوْهاَ اْلفَرَائِضَ.

Umar bin Al Khathab berkata: “Sesungguhnya hati maju mundur (dalam beribadah) maka jika hati sedang semangat maka ambilah sekalian ibadah-ibadah nafilah, jika hati sedang mundur (dalam beribadah) maka wajibkanlah ibadah-ibadah yang wajib.”[Syarh as Sunnah karya al Baidhawi].
Selain hati yang menjadikan ibadah pada bulan ramadhan menjadi tidak optimal walaupun syaithan sudah dibelenggu, yaitu nafsu, Allah berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (QS. Yusuf [12]:53). Imam Dalam syair-syair dikatakan:

النَّفْسُ كاَلطِّفْلِ إِنْ تَهَمَلَهُ شَبَّ عَلَى حُبِّ الرَّضاَعَ وَإِنْ تَفْطَمَهُ يَنْفَطَمَ

“Nafsu itu seperti bayi, jika dibiarkan menyusu maka akan selalu menyusu tapi jika disapih maka jadi tersapih. Biasanya bayi akan senantiasa menangis pada saat awal disapih akan tetapi jika sudah beberapa hari maka akan terbiasa, itulah jiwa manusia.”
Allohu a’lam bish showab.
Sumber: belajarislam.com
Selengkapnya...

Senin, 03 Januari 2011

ADAB MEMBERI SALAM


Kalau kita mau merenungkan betapa banyak pahala-pahala Allah yang tersedia setiap harinya untuk kita raih, tapi justru sering kita remehkan dan abaikan. Dari semenjak kita terjaga dari tidur hingga sampai tidur kembali, semuanya terdapat pahala yang terhampar tak terhitung banyaknya serta keuntungan yang nyata di dunia dan akhirat. Tentunya dengan catatan, kalau semuanya kita jalani sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan syariat.

Contoh yang sangat sederhana sekali dari pahala-pahala yang terabaikan setiap harinya adalah tradisi dan ibadah menebarkan salam ‘Assalamu’alaikum’ yang saat ini hampir hilang karena sering ditinggalkan oleh sebagian umat islam.

Tidak sedikit di antara kita umat islam yang merasa minder dan malu kalau harus menyapa dengan mengucapkan salam‘Assalamu’alaikum’ ketika bertemu saudaranya, dan lebih bangga kalau dapat menyapa dengan sapaan ‘ala barat’ atau sapaan yang lainnya, seperti: hello; hai; selamat pagi; selamat siang; selamat sore; selamat malam; dan lain sebagainya. Juga ketika mendatangi rumah sanak-saudara atau bertamu ke salah satu rumah teman, terasa berat rasanya kalau memulainya dengan mengucapkan salam dan anehnya seakan lebih afdhol atau lebih ‘sreg’ kalau dengan ucapan selainnya, seperti: permisi, kulo nuwun, punten atau hanya sekedar mengetuk pintu rumah atau lebih parah dari itu masuk ‘slonong boy’, tanpa permisi dan basa basi. Sungguh menyedihkan dan menyelisihi ajaran Islam yang agung itu sendiri.


Allah subhanahu wa Ta’aalaa berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتىَّ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. (QS. an-Nur: 27)

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

حَقُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى اْلمُسْلِمِ سِتٌّ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ . .

“Hak seorang muslim atas saudaranya yang muslim ada enam: apabila kamu bertermu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya…” (HR. Muslim 2162)

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. an-Nisa: 86)

Perlu kita sadari bersama bahwa mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’ dalam Islam bukan hanya sekedar sapaan belaka, tetapi lebih mulia dari itu. Ia merupakan bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala, yang jelas punya nilai dan pahala yang besar di sisi-Nya. Karena ucapan salam itu adalah doa. Sedangkan doa itu sendiri merupakan inti ibadah dan diberikan pahala bagi siapa yang mengucapkannya.

Salam juga merupakan amalan dan tradisi (sunnah) para Rasul-rasul Allah dan para malaikat-Nya. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang kisah para malaikat yang datang bertamu kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ () إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan:”Salaman”, Ibrahim menjawab:”salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”. (QS. adz-Dzariyat: 24-25)

Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda,

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ قَالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ جُلُوسٌ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ. فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ (متفق عليه)

“Tatkala Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam, Dia berfirman, “Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para Malaikat yang sedang duduk, lalu perhatikanlah apa yang mereka akan jawab, sesungguhnya jawaban (para malaikat itu) adalah salam (penghormatan)mu dan anak keturunanmu. Maka Adam ‘alaihissalam berkata, “Assalamu’alaikum”, lalu mereka (para malaikat) menjawab, “Assalamu’alaika wa Rahmatullah”. Mereka menambahkan: “Warahmatullah”. (HR Bukhari 6227 dan Muslim 2841).

Salam juga merupakan ajaran dan amalan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para shahabat ridwanullahu’alaihim.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (متفق عليه)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al’Ash radhiyallahu’anhuma bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, “ajaran Islam yang manakah yang paling baik”? Beliau menjawab, “Kamu memberi makan (orang yang membutuhkannya), dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR Bukhari 4684 dan Muslim 993).

Berikut ini, kita cantumkan beberapa adab salam. Mudah-mudahan bisa menambah pengetahuan kita yang selanjutnya menjadi landasan kita dalam beramal.

Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya. Di dalam hadits Anas disebutkan
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا تكلم بكلمة أعادها ثلاثا، وإذا أتى على قوم فسلم عليهم سلم عليهم ثلاثا) رواه البخاري

“Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali” (HR. Al-Bukhari).

Termasuk sunnah adalah orang mengendarai kendaraan mengawali memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaq’alaih.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليسلم الصغير على الكبير، والمار على القاعد, والقليل على الكثير. وفي رواية: والراكب على الماشي. متفق عليه.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah yang muda memulai memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang lebih banyak..” Dan dalam suatu riwayat: “dan yang bertunggangan (berkenderaan) kepada yang berjalan.” (Bukhari 6231, 6234 dan Muslim 2160).

Disunnatkan keras ketika memberi salam dan demikian pula menjawabnya, kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya:
فكان نحتلب فيشرب كل إنسان منا نصيبة، وبرفع للنبي صلى الله عليه وسلم نصيبه قال: فيجيء من الليل فيسلم تسليما لا يوقظ نائما، ويسمع اليقظان. رواه مسلم

“dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum dari kami, dan kami sediakan bagian untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam Miqdad berkata: Maka Nabi pun datang di malam hari dan memberikan salam yang tidak membangunkan orang yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang bangun”.(HR. Muslim).

Disunatkan memberikan salam di waktu masuk ke suatu majlis dan ketika akan meninggalkannya. Karena hadits menyebutkan:
إذا انتهى أحدكم إلى المجلس فليسلم، فإذا أراد أن يقوم فليسلم فليست الأولى بأحق من الثانية (رواه أبوداود وصححه الألباني)

“Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam, dan tidaklah yang pertama lebih berhak daripada yang kedua. (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Al-Albani).

Disunnatkan memberi salam di saat masuk ke suatu rumah sekalipun rumah itu kosong, karena Allah telah berfirman yang artinya:
فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ

” Dan apabila kamu akan masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian” (QS. An-Nur(24) : 61)

Dan karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma :

إذا دخل الرجل البيت غير المسكون فليقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين (رواه البخاري فى الأداب المفرد وصححه الألباني)

“Apabila seseorang akan masuk ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan : Assalamu `alaina wa `ala `ibadillahis shalihin” (HR. Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan disahihkan oleh Al-Albani).

Dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang di WC (buang hajat), karena hadits Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma yang menyebutkan
أن رجلا مرّ رسول الله صلى الله عليه وسلم يبول فسلّم : فلم يرد عليه (رواه مسلم)

“Bahwasanya ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil, dan orang itu memberi salam. Maka Nabi tidak menjawabnya”. (HR. Muslim)

Disunnatkan memberi salam kepada anak-anak, karena hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعله (متفق عليه)

Bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia memberi salam, dan ia mengatakan: “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. (Muttafaq’alaih).


Tidak memulai memberikan salam kepada Ahlu Kitab, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا تبدءوا اليهود والنصارى بالسلام …. (رواه مسلم)

” Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani…..” (HR. Muslim). Dan apabila mereka yang memberi salam maka kita jawab dengan mengucapkan “wa `alaikum” saja, karena sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

Disunnatkan memberi salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang tidak kamu kenal. Di dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiallaahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
أي الإسلام خير؟ قال : تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف (متفق عليه

“Islam yang manakah yang paling baik? Jawab Nabi: Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal”. (Muttafaq’alaih).

Disunnatkan menjawab salam orang yang menyampaikan salam lewat orang lain dan kepada yang dititipinya.
فقد جاء رخل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إن أبي يقرئك السلام فقال: عليك وعلى أبيك السلام (رواه أبو داود وحسنه الألباني)

“Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu. Maka Nabi menjawab : “`alaika wa `ala abikas salam ( HR . Abu dawud dan dihasankan Al Albani )

Dilarang memberi salam dengan isyarat kecuali ada uzur, seperti karena sedang shalat atau bisu atau karena orang yang akan diberi salam itu jauh jaraknya. Di dalam hadits Jabir bin Abdillah Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا تسلموا تسليم اليهود والنصارى فإن تسليمهم إشارة بالكفوف (رواه البيهقي وحسنه الألباني)

“Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya pemberian salam mereka memakai isyarat dengan tangan”. (HR. Al-Baihaqi dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Disunnatkan kepada seseorang berjabat tangan dengan saudaranya. Hadits Rasulullah mengatakan:
ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يتفرقا (رواه أبوداود وصححه الألباني)

“Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dianjurkan tidak menarik (melepas) tangan kita terlebih dahulu di saat berjabat tangan sebelum orang yang diajak berjabat tangan itu melepasnya. Hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan:
كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا استقبله الرجل فصافحه لا ينزع يده من يده حتى يكون الرجل الذي ينزع (رواه الترمذي وصححه الألباني)

“Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia diterima oleh seseorang lalu berjabat tangan, maka Nabi tidak melepas tangannya sebelum orang itu yang melepasnya….” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Haram hukumnya membungkukkan tubuh atau sujud ketika memberi penghormatan, karena hadits yang bersumber dari Anas menyebutkan:
قال رجل : يا رسول الله احدنا يلقا صديقه أينحني له ؟ قال صلى الله عليه وسلم لا . قال فيلتزمه ويقبله ؟ قال : لا . قال : فيصافحه ؟ قال : نعم إن شاء ( رواه الترمذي وصححه الألباني)

Ada seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, kalau salah seorang di antara kami berjumpa dengan temannya, apakah ia harus membungkukkan tubuhnya kepadanya? Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak”. Orang itu bertanya: Apakah ia merangkul dan menciumnya? Jawab nabi: Tidak. Orang itu bertanya: Apakah ia berjabat tangan dengannya? Jawab Nabi: Ya, jika ia mau. (HR. At-Turmudzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Haram berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika akan dijabat tangani oleh kaum wanita di saat baiat, beliau bersabda:
إني لا أصافح النساء (رواه الترمذي والنسائي وصححه الألباني)

“Sesung-guhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita”. (HR.Turmudzi dan Nasai, dan dishahihkan oleh Albani).
sumber: http://ustadzridwan.com/adab-memberi-salam/
Selengkapnya...

Selasa, 15 Juni 2010

KARENA SETIAP ORANG MENYIMPAN SETITIK KEBAIKAN DALAM JIWANYA


Tidak semua manusia dipilih oleh Allah untuk kembali ke jalan yang lurus dan mengenal manhaj yang benar. Maka saat Allah menuntun hidup kita untuk berjalan, berbuat, bekerja, berpikir, dan berbicara sesuai dengan manhaj salaf yang shalih; itu berarti ada nikmat yang tak terkira besarnya yang harus kita syukuri. Yah, karena –sadar atau tidak- sebenarnya kita telah menjadi pilihan-pilihan Allah di bumi. Di saat banyak saudara-saudari muslim kita yang sadar untuk memperjuangkan Islam dengan manhaj apa saja, kita disadarkan oleh Allah bahwa “Generasi akhir ummat ini tidak akan menjadi generasi yang shaleh dan jaya kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh generasi awalnya” (La yashluhu akhiru hadzihil ummah illa bima shaluha bihi awwaluha).
Dampaknya, kita merasakan keizzahan yang luar biasa dahsyatnya dalam diri kita. Kita bangga berpenampilan sebagai salah seorang ikhwan. Kita merasa mulia saat mewujud sebagai salah satu bagian dari komunitas akhawat. Salahkah? Sampai di sini mungkin tidak ada masalah. Hanya saja seringkali keizzahan itu melanggar batas-batas yang semestinya. Keizzahan itu seringkali menyeret kita menjadi merasa shaleh sendiri dan memandang rendah orang lain yang berada di luar komunitas keshalehan kita. Mungkin tidak terungkapkan dengan kata-kata, tapi ia bersembunyi dalam gerakan-gerakan hati kita. Bahkan lebih parah lagi, obsesi keshalehan kita yang begitu tinggi membuat kita memandang orang lain “yang belum shaleh” sebagai makhluk-makhluk yang sudah tidak punya harapan lagi. Kita sering menjadi “buta” tiba-tiba hingga tidak lagi melihat ada celah buat mereka untuk kembali. Kita lupa, bahwa setiap orang sesungguhnya punya setitik kebaikan itu dalam dirinya…

* * *
Izinkanlah saya untuk mengutip kisah yang sungguh-sungguh menggugah saya tentang hal ini. Sebuah kisah yang benar-benar menampar kesombongan kita yang bersembunyi di balik keshalehan lahiriah kita. Kisah ini sendiri adalah kisah nyata seorang ulama Ahlussunnah, Syekh Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuwayyan, yang diungkapnya dalam buku berjudul Fi al-Bina’ al-Da’wy. Kisahnya sebagai berikut…
* * *
Hari itu saya kembali dari sebuah perjalanan yang panjang. Dan di pesawat, Allah menakdirkan saya untuk duduk di samping sekelompok pemuda yang nampaknya senang sekali berfoya-foya dan berhura-hura. Tawa mereka sangat keras. Dan kegaduhan mereka pun semakin lama semakin menjadi-jadi. Kabin pesawat pun dengan cepat menjadi ruangan yang dipenuhi asap rokok mereka. Dan tampaknya sudah menjadi hikmah Allah bahwa pesawat itu benar-benar penuh, hingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mencari tempat duduk lain.
Saya berusaha keras untuk lari dari ‘kesempitan’ ini dengan tidur. Tapi, mustahil dan sangat mustahil saya bisa tidur dalam suasana seperti itu. Maka ketika kegaduhan itu semakin membuat kejengkelan saya memuncak, saya pun mengeluarkan mushaf al-Qur’an, lalu membacanya dengan suara yang rendah. Ternyata, tidak lama kemudian sebagian dari anak-anak muda itupun mulai tenang. Sementara sebagian yang lain mulai membaca surat kabar, dan adapula yang mulai tidur dengan lelap.
Namun, tiba-tiba, salah seorang dari mereka berbicara dengan suara keras –dan ia duduk tepat di samping saya!- : “Cukup!…Cukup!”
Saya menduga suara saya terlalu keras hingga mengganggunya. Saya meminta maaf padanya. Saya pun kembali melanjutkan bacaan saya dengan suara yang membisik hingga hanya saya sendirilah yang mendengarnya. Tapi saya lihat ia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Duduknya gelisah. Tidak pernah diam dan terus bergerak. Hingga ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata dengan penuh emosi: “Tolong! Cukuplah sudah! Cukup! Saya sudah tidak bisa bersabar lagi!”
Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu menghilang selama beberapa lama. Tidak lama kemudian ia kembali lagi, mengucapkan salam kepada saya sembari meminta maaf. Ia terdiam. Dan saya tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi sejenak kemudian ia menoleh pada saya, dan matanya basah oleh air mata. Ia berkata sambil berbisik: “Tiga tahun lamanya, bahkan lebih…Aku tak pernah meletakkan keningku di tanah…Aku tak pernah membaca satu ayat pun! Dan…satu bulan penuh ini aku habiskan dalam perjalanan ini…tidak satupun kemaksiatan yang tidak kukerjakan. Hingga aku pun melihatmu membaca al-Qur’an…Tiba-tiba saja dunia menjadi gelap di hadapanku…dadaku sesak…Aku merasa seperti tercekik. Iya, aku merasakan setiap ayat yang engkau baca menhantam tubuhku bagai cambuk..! Aku berkata pada diriku sendiri: Sampai kapan kelalaian ini?! Kemana aku akan berjalan di jalan ini?! Lalu apa setelah semua kelalaian dan kesenangan ini?! Hingga aku pun segera lari ke kamar kecil. Anda tahu kenapa?! Karena aku merasa sangat ingin menangis. Dan aku tidak menemukan tempat sembunyi dari pandangan orang lain selain di tempat itu!!”
Demikian ia berbicara padaku…Aku pun menyampaikan kalimat-kalimat seputar taubat dan kembali pada Allah…Dan ia pun terdiam.
Ketika pesawat mendarat di bumi, pemuda itu menghentikanku. Nampak sekali ia ingin menjauh dari teman-temannya. Ia bertanya padaku, dan wajahnya menampakkan air muka yang sangat serius: “Menurut Anda, apakah Allah masih berkenan menerima taubatku?”
Aku berkata padanya: “Jika engkau jujur dan sungguh-sungguh ingin kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa apapun.”
“Tapi aku telah melakukan terlalu banyak dosa…dosa-dosa yang begitu besar…,” ujarnya.
“Apakah engkau pernah mendengar firman Allah: “Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Mahapengampun lagi Mahapengasih.” (Az-Zumar:53)??” ujarku.
Kulihat wajahnya tersenyum penuh kebahagiaan. Kedua matanya berkaca dipenuhi air mata. Ia lalu mengucapkan selamat tinggal, dan pergi berlalu…
Maha suci Allah yang Mahaagung!

Begitulah manusia. Sejauh dan setinggi apapun kedurhakaan yang telah ia lalui dan daki, tapi selalu saja ada celah kebaikan dalam jiwanya. Andai saja kita dapat berusaha sampai ke sana, lalu menyianginya dengan cinta, ia akan tumbuh dengan izin Allah.

* * *
Membaca kisah ini, membuat kita harus melihat ulang rasa izzah akan keikhwanan dan keakhawatan kita. Karena saat izzah itu menjelma menjadi kesombongan, ia tidak lagi perlu dibanggakan. Kebanggaan semacam itu hanya membuat kita meremehkan manusia lain, yang boleh jadi saat hidayah Allah bersemayam di hatinya, ia akan menjejakkan kakinya di surga terlebih dulu dibanding kita. “Izzah” seperti itu hanya akan menyebabkan kita menjadi penghalang manusia untuk meraih hidayah Allah. Wallahul musta’an.

Penulis: Muhammad Ihsan Zainuddin
Cipinang Muara, 24 Shafar 1426/24 Maret 2006
[http://abulmiqdad.blogspot.com/]
Selengkapnya...